Darurat Literasi di Jenjang Sekolah: Ketika Siswa Belum Mampu Membaca dan Menulis

Indonesia menghadapi tantangan pendidikan yang serius dan mendalam, yaitu fenomena darurat literasi dasar pada anak usia sekolah. Kasus ini bukan hanya terbatas pada pelajar di daerah terpencil atau mereka yang putus sekolah, melainkan sudah menjadi temuan yang mengkhawatirkan di berbagai jenjang, bahkan hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Masih banyak siswa yang belum mampu membaca lancar, mengeja dengan benar, atau yang lebih penting, memiliki pemahaman bacaan (reading comprehension) yang memadai untuk jenjang usia mereka.

“Bisa Baca, Tapi Tak Paham”: Isu yang lebih besar adalah kurangnya pemahaman bacaan (reading comprehension). Banyak siswa yang bisa membaca kata-kata secara literal, namun gagal memahami isi, konteks, dan ide utama dari teks yang mereka baca. Data dari survei internasional, seperti Programme for International Student Assessment (PISA), secara konsisten menempatkan kemampuan literasi membaca siswa Indonesia pada peringkat yang rendah. Hal ini menunjukkan bahwa masalahnya jauh lebih kompleks daripada sekadar kemampuan melafalkan kata. 

Penyebab dari krisis literasi ini bersifat multifaktorial. Salah satu pemicu utama adalah penerapan kebijakan kenaikan kelas otomatis yang kurang disertai dengan asesmen ketat terhadap penguasaan kompetensi dasar, khususnya literasi. Akibatnya, masalah ini terbawa dan terakumulasi dari jenjang Sekolah Dasar ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Di samping itu, kualitas dan metode pengajaran membaca di kelas-kelas awal sering kali belum optimal. Banyak guru yang belum mendapatkan pelatihan memadai mengenai strategi literasi yang efektif, seperti penguatan fonik dan pemahaman mendalam.

Faktor lingkungan juga berperan besar. Kesenjangan akses terhadap buku dan materi bacaan yang berkualitas antara wilayah perkotaan dan daerah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) memperburuk keadaan. Kurangnya budaya baca yang ditanamkan sejak dini di lingkungan keluarga, ditambah dominasi interaksi anak dengan gawai yang menggeser waktu baca, turut memperlambat perkembangan kemampuan literasi. Ironisnya, dampak learning loss yang ditimbulkan oleh pembelajaran jarak jauh selama pandemi COVID-19 semakin memperparah kondisi ini, memundurkan pencapaian literasi siswa secara signifikan.

Untuk mengatasi situasi darurat ini, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah mengambil langkah melalui program Merdeka Belajar. Fokus utama kini adalah penguatan literasi dan numerasi sebagai fondasi pendidikan. Instrumen Asesmen Nasional (AN) kini digunakan untuk memetakan mutu pendidikan dan kemampuan literasi siswa dan guru di seluruh sekolah. Selain itu, penyediaan buku berjenjang yang sesuai dengan tingkat kemampuan membaca anak digalakkan untuk menumbuhkan kebiasaan dan kemampuan membaca secara bertahap. Namun, keberhasilan dalam mengatasi krisis literasi ini memerlukan komitmen kolektif, menggabungkan intervensi kebijakan yang kuat, peningkatan kualitas guru, dan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat dan keluarga dalam menciptakan lingkungan yang kaya literasi.

1 Komentar

  • Player 1

    Sering-sering baca buku aja sih menurutku, terutama dipagi hari ketika otak masih fresh belum ada pikiran lain, dan belajar menuliskan resensi buku yang dibaca tadi.

Leave a Reply to Player 1 Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

spekulasi.